Berita Terpopuler

Selasa, 29 Juni 2010

Tina Astari Ketemu Calon Suami di Organisasi

selengkapnya...........

Ariel Sudah Tanda Tangani BAP

 

Permintaan Ariel ke Luna Maya

Pagi buta, Luna Maya sudah mendatangi Mabes Polri. Luna mendatangi Mabes Polri sekitar pukul 05.30 WIB. Konon, kehadiran artis cantik itu untuk menjalani pemeriksaan.
Tapi, Luna tak mau membuang kesempatan. Dia menggunakan momen itu untuk mengunjungi Ariel yang sedang mendekam di tahanan Mabes.
Hal itu diungkapkan oleh kuasa hukum Ariel dan Luna Maya, Boy Afrian Bondjol. Pengacara muda ini mengatakan Luna sedang menunggu kesempatan untuk menjenguk kekasihnya itu.
Dia tak lihat apakah yang dibawa Luna untuk pria yang dicintainya tersebut. Tetapi, Boy melanjutkan Ariel sempat mengajukan permintaan kepada Luna Maya.
"Dia nggak minta macam-macam. Dia minta didoakan saja. Dia minta ke Luna," kata Boy Afrian saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin 28 Juni 2010.
Kasus video porno yang sedang membelit pria asal Bandung tersebut memang sangat menyita perhatian. Dan kasus itu pula telah membawa perubahan drastis dalam hidup Ariel. Jika biasanya dia dielu-elukan oleh para penggemar setianya. Kini, situasi yang berbeda didapat oleh pria tersebut. Tak ada lagi pujian yang diterima Ariel. Justru sebaliknya, pria berzodiak Virgo ini harus menerima hujatan, kata-kata pedas yang mungkin membuatnya sakit hati.
Dan Boy Afrian memaparkan situasi sulit yang kini sedang dirasakan Ariel membuat pria itu mengalami tekanan. Dan di sinilah peran Luna Maya sangat dibutuhkan pria tersebut sebagai seorang kekasih. "Ariel butuh dukungan moril saat ini," ucapnya lagi. (umi,
VIVAnews )

Senin, 28 Juni 2010

KPK Tetapkan Mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri Sebagai Tersangka

 Dalam pengembangan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi terkait dengan renovasi gedung kantor, wisma Duta Besar, Wisma DCM, dan rumah-rumah dinas KBRI di Singapura tahun 2003 sampai dengan 2004, pada hari ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan SP (Mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri) sebagai tersangka.
      Berdasarkan hasil penyidikan dan fakta persidangan, ditemukan bahwa saat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri, SP diduga telah melakukan permintaan dan penerimaan sejumlah uang terkait dengan usulan ABT yang akan digunakan untuk renovasi gedung kantor, wisma Duta Besar, Wisma DCM, dan rumah-rumah dinas KBRI di Singapura tahun 2003 sampai dengan 2004.
        Tersangka SP disangkakan melanggar Pasal 12 huruf e dan atau Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 5 ayat (2) dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
        Sebelumnya, dalam kasus ini, KPK telah menetapkan tersangka atas nama MSH (Mantan Duta Besar RI untuk Singapura) dan E (Mantan Bendaharawan/Kepala Bagian TU KBRI Singapura).

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi :
Johan Budi SP
Hubungan Masyarakat
Komisi Pemberantasan Korupsi
Jl H Rasuna Said Kav. C-1- Jakarta Selatan
Telepon: (021) 25578300

Adul Abdul Latief : "Tiap Malam Ronda, Buat Momongan"

Menikah, Dapat Kado Kambing

         Komedian bertubuh mungil, Adul Abdul Latief (27) menggelar acara resepsi pernikahannya pada hari Minggu ( 27/6/2010 ) ini, di gedung HC, jalan Saco Ragunan, Jakarta Selatan.
          Di hari bahagianya ini, Adul menerima hadiah berupa seekor kambing dari teman-temannya di acara Wara-Wiri. Sontak saja, hadiah ini membuatnya semakin berseri-seri. Pernikahan antara Adul dan istrinya Azilia Nur Fatma (20) ini, mengusung konsep Betawi.
          Sebelumnya, pada 6 Juni 2010 lalu keduanya telah melangsungkan akad nikah. Pasangan Komeng dalam acara Wara-Wiri ini mengaku memang sengaja tidak mengundang media saat acara akad nikahnya. Sebab, ia ingin agar acara tersebut berlangsung sakral.
         "Akadnya berjalan lancar. Memang enggak dikasih tahu karena itu ekslusif buat acara Adul sendiri," ujar Adul, Jakarta, hari ini.
          Lalu, bagaimana perasaan Adul setelah menikah? "Tiap malam ronda, buat momongan. Jadi suami harus lebih bertanggungjawab lagi, karena nambah keluarga. Urusan momongan hajar bleh," kata Adul sambil tertawa.

Sabtu, 26 Juni 2010

Pelaksanaan Pembangunan SUS Gedebage Mengalami Kemajuan

             Bandung, INa-INA.
         Pembangunan Stadion Utama Sepakbola Gedebage, sampai dengan 20 Juni 2010 telah mencapai 1,6928% atau lebih cepat sekitar 0,0338% dari target semula. Hal tersebut terungkap pada saat rapat laporan kemajuan pelaksanaan pembangunan SUS Gedebage di Pendopo, Pemkot Bandung, jalan Dalem Kaum 56, Rabu (23/6).
        Hadir dalam rapat tersebut Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada, Ketua DPRD Kota Bandung, Erwan Setiawan, Wakil Wali Kota Bandung, Ayi Vivananda, dan sejumlah pejabat publik serta dari konsultan dan kontraktor pembangunan.
          Menurut konsultan pembangunan, meskipun pekerjaan mencapai target bahkan melebihi dari yang direncanakan, dalam pelaksanaannya mengalami beberapa kendala seperti, cuaca yang tidak mendukung untuk membawa material ke lokasi, akses jalan ke lokasi hanya melalui cimencrang padahal kapasitas jalan tersebut terbatas, rencana melalui komplek adipura tidak bisa dilaksanakan, dan akses melalui tol KM 151 baru bisa dipakai sekitar pertengahan Juli.
     "Apabila akses KM 151 sudah bisa digunakan, kemungkinan besar pekerjaan pembangunan stadion ini dapat berjalan sesuai target bahkan mungkin lebih cepat", ujarnya.
      Berdasarkan laporan tersebut, Wali Kota Bandung, yang disampaikan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Bulgan Alamin, merasa lega karena pembangunan dapat berjalan sesuai dengan target yang direncanakan. "Wali Kota Bandung merasa lega, karena pembangunan tersebut sesuai dengan apa yang direncanakan", ujarnya.
      Bulgan pun menuturkan, Wali Kota meminta kepada Dinas Pemakaman dan Pertamanan agar dapat menyiapkan dan menanam pepohonan di lokasi SUS Gedebage, sehingga pada saat pembukaan Stadion, pepohonan tersebut sudah besar-besar. "Coba pilih dari sekarang jenis pohonnya, apakah pohon pelindung, produktif, atau kombinasi keduanya, dan siapkan dari sekarang agar nanti kalau stadion sudah beres, pohonnya juga sudah besar", ungkapnya.
      Lebih lanjut dikatakannya, Dada pun berpesan agar kenyamanan penonton dapat diutamakan, mulai dari akses masuk, tempat duduk, sampai kamar kecil, dapat diperhatikan. "Jangan samapai mereka sudah membayar untuk menikmati pertandingan, tetapi kenyamanan mereka selama pertandingan terganggu", pungkasnya. Tim R

Jumat, 25 Juni 2010

"Balita Merokok Bukti Kelalaian Pemerintah"


Jakarta, INA-INA        Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa hingga pertengahan tahun 2010 terdapat 6 kasus anak berusia 11 bulan, 2,5 tahun, dan 4 tahun yang kecanduan rokok, dari lima batang per hari hingga dua bungkus per hari. Dari anak balita perokok yang dipantau itu lama masa merokoknya sekitar 1,5–2 tahun. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) juga menunjukkan prevalensi perokok yang mulai merokok pada usia 5–9 tahun meningkat lebih dari 4 kali lipat sepanjang tahun 2001–2004. Sementara remaja usia 15–19 tahun meningkat hingga 144 persen selama tahun 1995–2004,' ujarnya.
            ”Fenomena [anak] balita merokok ini bukti kelalaian pemerintah dalam menjamin hak hidup dan tumbuh kembang anak. Padahal, anak-anak yang merokok ini membutuhkan perlindungan khusus,” ujarnya.
             Dari 6 kasus anak balita perokok itu, Komnas Perlindungan Anak kini tengah melakukan terapi pada anak balita yang kecanduan rokok bernama Al (2,5) dari Sumatera Selatan. Menurut penuturan ibunya, Al mulai merokok sejak usia 11 bulan. Al terbiasa merokok karena kerap bermain di lingkungan perokok. Kebiasaan Al sulit dihentikan karena setiap kali dilarang merokok Al akan menangis dan membenturkan kepala ke tembok. Tim R

Media Massa Harus Perhatikan Dampak Liputan Video Porno

          Jakarta, INA-INA.
         "Media massa, terutama televisi, harus sangat memperhatikan kondisi pemirsanya terkait dampak tayangan mengenai video cabul .  Media massa diminta harus memperhatikan dampak terhadap para pemirsanya dari peliputan tayangan video porno yang diduga dilakukan sejumlah artis," ujar Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers, Agus Sudibyo di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat.
           Menurut Sudibyo, karena media televisi adalah institusi sosial, maka publik berhak atas tayangan-tayangan televisi yang mengakomodasi kemajemukan nilai, kultur, dan budaya bangsa Indonesia.
          Lebih lanjut Sudibyo menjelaskan bahwa publik juga berhak atas tayangan televisi yang berkualitas, aman untuk anak-anak, remaja, tidak bisa gender, mengakomodasi semangat pluralisme dan "ramah keluarga". Dalam konteks tayangan video cabul, media harus berempati misalnya kepada para orang tua dan guru yang panik terhadap dampak video cabul itu kepada anak-anak mereka," katanya.
         Selain itu, Dewan Pers juga meminta komunitas pers agar secara konsisten menempatkan ruang media sebagai ruang publik sosial untuk mendiskusikan hal yang benar-benar penting dan relevan untuk kepentingan publik. Ruang publik media, harus dihindarkan dari perbincangan atau perdebatan yang terlalu jauh memasuki ranah privat atau domain keintiman pribadi seseorang tanpa memperhatikan relevansi untuk kepentingan publik," tegas Dewan Pers.
      Sudibyo juga mengatakan bahwa komunitas pers juga diminta memperhatikan bahwa pemberitaan media yang berlebihan dapat digunakan beberapa pihak untuk membenarkan sejumlah pendapat seperti "kebebasan pers di Indonesia memang telah kebablasan".
       Sementara itu, Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengingatkan bahwa meski kini adalah era keterbukaan informasi publik, tetapi terdapat juga hak privasi seseorang.
       "Baik UUD 1945 maupun tatanan demokrasi kita juga memperhatikan hak privasi tersebut," katanya.
        Mantan Ketua Mahkamah Agung itu juga mengemukakan bahwa kemerdekaan pers juga harus disertai dengan tanggung jawab dalam mengemban nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.Tim R

Minggu, 20 Juni 2010

"Tayangan Pornografi 
Diduga Siswa SMP Garut "
 
           Garut, INA-INA. 
           Malu dan terpukul, atas beredarnya tayangan Pornografi, yang diduga dilakukan oleh pasangan siswa SMP di daerahnya. Hal tersebut diungkapkan Bupati Garut, Aceng H.M Fikri.
            Menurut Aceng, bahwa ini menyangkut kondisi moralitas pelajar, meski dipastikan tak seluruh pelajar berperilaku demikian namun jika terbukti benar, perbuatan itu mencoreng dunia pendidikan, tegasnya.
           Aceng menginstruksikan, seluruh lembaga pendidikan agar meningkatkan kualitas pengawasan dan pengamanan semua anak didiknya. ”Peristiwa tersebut, sangat memukul kita yang berada di kota santri dan ulama, jika memang peristiwanya terjadi, harus menjadi bahan instrospeksi bagi kita semua, ulama dan para orang tua,” kata Bupati. 
            Meski, peristiwa di Garut ini, merupakan potret kecil dari peristiwa serupa yang menjadi perhatian khalayak banyak, tetapi tetap diperlukan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pengawasan dan bimbingan moral kepada generasi yang akan datang khususnya pelajar.
           Kabag Bina Mitra Polres setempat, Kompol Bambang Sugito menegaskan, peredaran adegan pornografi tersebut, belum tentu pelakunya pelajar SMP sehingga pihaknya kini menjalin koordinasi dengan Dinas Pendidikan.
          Jika terbukti, maka pemeran atau pelaku termasuk yang mengontribusikan tayangannya, akan dijerat psl.36 Undang-Undang Nomor.44/2008 Tentang Pornografi.
         Kepolisian juga akan mengundang petugas penjual karcis di lapangan Merdeka Keerkhoof, karena diduga adegan mesum pasangan remaja itu, dilakukan di samping tembok Wisma Atlet, katanya.
          Selain itu, akan semakin gencar dilaksanakan swiping telefon genggam para pelajar, pada setiap sekolah di Kabupaten Garut.
          Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Oon Suhendar, SH juga menegaskan, tengah gencar menyelidiki kasus itu, yang diperkirakan berlangsung pada siang hari bolong, sedangkan kapan berlangsungnya masih diselidiki, termasuk jika perlu mendatangkan akhli ”IT”. Tim R

Sabtu, 19 Juni 2010

DPR DESAK PEMERINTAH PRIORITASKAN KEBUTUHAN GAS DALAM NEGERI

               Jakarta, INA-INA. 
         Rapat Gabungan Komisi Dengan Pemerintah, DPR RI mendesak Pemerintah memprioritaskan kebutuhan gas industri dalam negeri dan mengatasi kelangkaan pasokan gas. Pemerintah dinilai mementingkan ekspor gas untuk mencari devisa dibandingkan memenuhi kebutuhan gas domestik.
            Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi VI, Aria Bima dalam Rapat Kerja Gabungan antara Komisi IV, VI dan VII dengan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mendag Mari Elka Pangestu, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Rabu (16/6/2010) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
            Aria Bima ingin mengklarifikasi pernyataan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh dalam sebuah pertemuan di Bandung. "Saya ingin mengklarifikasi pernyataan bapak dalam sebuah pertemuan di Bandung. Waktu itu bapak bilang lebih baik petani diberikan subsidi langsung bukan subsidi pupuk dan gas kita lebih baik diekspor ke luar negeri biar dapat devisa yang besar," ujar Aria.
            Aria menilai kebijakan tersebut salah kaprah, mengingat keberadaan gas bumi di tanah air memiliki nilai strategis yang bisa menggerakkan industri di tanah air dan bisa menyerap tenaga kerja. Selain itu, gas juga sangat diperlukan untuk pengoperasian pabrik pupuk dan pembangkit listrik.
            "Ekspor gas dijadikan sumber devisa itu di nomor duakan bahkan di nomor lima kan. Sektor industri kita butuh dukungan pemerintah untuk bersaing dalam ACFTA," jelas anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP)  itu.
            Untuk itu, ia meminta kepastian dan komitmen sebagai Menteri teknis yang mengurusi soal gas agar lebih mengutamakan gas untuk domestik. "Saya minta Menko perekonomian terutama Menteri ESDM kalau mau untuk devisa, bereskan dulu internalnya karena saat ini kita masih kekurangan gas," paparnya.
            Anggota Komisi VII Sutan Batugana mengingatkan Pemerintah agar berhati-hati dalam mengambil keputusan penanganan Blok Gas Donggi-Senoro. Dia meminta Menko Perekonomian agar segera menyelesaikan persoalan gas yang nasibnya terkatung-katung.
            Dia mengatakan Pemerintah memang belum memutuskan nasib dari blok gas Donggi-Senoro. Bahkan, menjadi kontroversi. Alasannya, jika sebagian besar gas diekspor, maka industri dalam negeri akan berteriak karena kekurangan gas. Namun, belakangan pemerintah berniat mengalokasikan 70 persen gas untuk ekspor dan 30 persen untuk domestik.
            Sutan Batugana meminta nasib gas Donggi-Senoro bisa segera diselesaikan agar nasibnya tidak jelas seperti beberapa perusahaan di Aceh. Menurut dia, sungguh miris di tempat yang ada gas tapi industri yang berdekatan justru kesulitan gas.
            Dalam Rapat itu Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengemukakan, kekurangan pasokan gas yang terjadi di Indonesia saat ini terjadi akibat kurangnya infrastruktur yang dimiliki. "Ini terjadi terutama di Sumatra dan Jawa," ujar Hatta. Karena itu, selesainya terminal apung LNG di 2011 diharapkan bisa menjadi salah satu solusi persoalan ini.
            Selain itu, Hatta meminta seluruh pihak untuk mau melibatkan suplai dan permintaan dalam hal perhitungan neraca pasokan. Sebab, jika pengukuran neraca hanya dilihat dari kebutuhan, pasti neraca akan menjadi defisit terus. "Kita harus tetap bicarakan energy mix (bauran energi), pasti akan diatur demand and suplai dengan penggunaan energi lain selain migas," ujar Hatta.
            Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menambahkan, neraca gas harus dipahami dengan menghitung permintaan gas yang sudah diikat kontrak (contracted demand gas) dengan jumlah pasokan pasti (projected supply). Sebab, pengembangan lapangan gas baru bisa dilakukan setelah kontrak diikat. "Dalam jangka panjang, betapapun kita terus meningkatkan pasokan, tapi kalau tidak dimanage, kita akan selalu terperangkap pada posisi defisit gas. Makanya kita sesuaikan kebutuhan sambil membangun infrastruktur transmisi dan mengembangkan cadangan di lapangan-lapangan baru," ujar Darwin.
            Rapat Gabungan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 15.15 WIB itu, sepakat untuk segera merevisi UU No.22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi sebagaimana diamanatkan dalam Pansus BBM. 
            Dalam upaya mengatasi kelangkaan pasokan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri, rapat gabungan komisi mendesak pemerintah segera membuat rencana aksi atau langkah-langkah kebijakan prioritas, antara lain seperti Donggi Senoro, Masela dan Natuna D-Alpha serta renegosiasi kontrak penjualan gas ke luar negeri, percepatan produksi lapangan-lapangan baru serta pengembangan Coal Bed Methane (CBM).
            Selanjutnya, dalam upaya menghubungkan antara pusat-pusat sumber gas yang berada jauh dari pusat konsumen, Rapat Gabungan Komisi meminta pemerintah membuat rencana aksi untuk segera membangun infrastruktur khususnya jaringan pipa transmisi dan distribusi gas bumi serta LNG receiving terminal dan CNG.
            Untuk mengurangi disparitas harga gas domestik dan harga di pasar internasional Rapat Gabungan Komisi meminta pemerintah agar membuat kebijakan harga gas (pricing policy) gas dalam negeri agar industri dalam negeri mampu bersaing di pasar global. Tim R
RAPBN 2011 USULKAN 
KENAIKAN GAJI PNS 10 PERSEN

          Jakarta, INA-INA.
          Ketua Badan Anggaran Harry Azhar Azis melaporkan hasil pembicaraan RAPBN 2011 pada Paripurna yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung, Kamis (17/6).
Harry menerangkan RAPBN 2010 menganggarkan kenaikan gaji pokok PNS dan Polri sebesar 10 persen untuk tahun 2010, pemberian gaji 13 dan penyediaan remunerisasi bagi departemen dan kementerian serta gaji pensiunan.
         Harry mengatakan, bahwa RAPBN pendahuluan 2011 pertumbuhan ekonomi diprediksi berada dikisaran 6.1-6.4 persen, sementara target inflasi ditargetkan 4.9-5.3 persen. “Untuk SBI 3 Bulan 6.2-6.5 persen, harga minyak sebesar 75-90 US dollar perbarel, lifting minyak 960-975 ribu barel perhari,”katanya saat melaporkan hasil pembicaraan RAPBN 2011 kepada paripurna, yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Pramono Anung.
        Menurut Harry, arah kebijakan fiskal 2011 diarahkan kepada sektor pembangunan kesejahteraan, demokrasi dan penegakan hukum. “kebijakan fiskal 2011 berorientasi dalam kesejahteraan rakyat, yaitu pro growth, pro job, pro poor,”paparnya.
Terkait Kebijakan subsidi pupuk, terang Harry, DPR mendorong terciptanya ketahanan pangan sehingga harga eceran tertinggi tidak mengalami kenaikan, sementara untuk subsidi benih tetap dianggarkan. Tim R

Jumat, 18 Juni 2010

Gedung Sate dan Angklung Menjadi Relief Uang Pecahan Logam Rp1.000

          Bogor, INA-INA.
          Dua ikon Jawa Barat, gedung Sate dan alat musik angklung menjadi relief atau gambar pada uang pecahan logam Rp1.000 yang akan diluncurkan oleh Bank Indonesia. "Gedung Sate dan angklung menjadi gambar pada uang logam pecahan Rp1.000, uang itu akan segera menjadi alat pecahan yang sah," kata seorang pejabat Kantor Bank Indonesia (KIB) Bandung, Naek Tigor Sinaga pada workshop pengendalian inflasi di Bogor, Jumat (18/6).
        Gedung Sate merupakan gedung bersejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang saat ini dipergunakan menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat. Gedung itu memiliki ciri khas `tusuk sate` di atas menara utamanya.
      Sementara angklung merupakan alat musik bambu tradisional asal Jawa Barat yang dikembangkan oleh seniman asal daerah itu, Alm. Udjo Ngalagena. Angklung saat ini diusulkan menjadi salah satu warisan dunia.
      Peluncuran alat bayar pecahan logam yang akan dikeluarkan oleh Bank Indonesia tersebut rencananya dilakukan pertengahan Juli 2010 mendatang oleh Gubernur Bank Indonesia dan Gubernur Jawa Barat di Kantor Bank Indonesia Bandung Jalan Wastukencana Kota Bandung.
     "Uang pecahan itu akan menggantikan uang pecahan logam Rp1.000 yang lama. Uang logam pecahan lama tetap berlaku sebagai alat pembayaran, namun setelah masuk BI tidak akan diedarkan lagi," kata Tigor yang juga Peneliti Ekonomi Madya KBI Bandung itu.
      Sedangkan uang pecahan kertas Rp1.000 bergambar Kapitan Patimura dan Pulau Matira dan Tirode tetap berlaku sebagai alat pembayaran di masyarakat. Uang logam pecahan berelief Gedung Sate dan angklung itu akan menjadi uang pecahan logam Rp1.000 kedua.
      Selain itu, Bank Indonesia dikabarkan akan menerbitkan uang pecahan kertas Rp10.000 dengan warna baru sehingga sekilas tidak keliru dengan uang pecahan Rp100.000 yang sama-sama berlatar warna merah. Smith

Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Kita Semua

       Gorontalo, INA-INA.
        Pemanfaatan hasil bumi serta pengelolaan lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua,Hal ini ditegaskan Menteri Negara LH dalam sambutannya yang dibacakan Wagub Gorontalo Tony Uloli saat upacara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Provinsi Gorontalo di lapangan bukit perkemahan Bongohulawa Limboto, Jum’at (18/6) 2010.
         Indonesia dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi yakni sekitar 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies hewan. Potensi keanekaragaman hayati ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
        Dua dasa warsa terakhir, terjadi pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berlebihan sehingga mengancam tatanan dan funsi ekosistem, olehnya itu Tony Uloli mengajak semua pihak untuk berpartisipasi menjaga sumber daya alam Indonesia terutama keanekaragaman hayati agar dapat bermanfaat secara berkelanjutan.
        Sementara itu Ka.BLH Kab. Gorontalo Ridwan Lukum melaporkan rangkaian hasil kegiatan Hari lingkungan hidup yang telah dilakukan di Prov. Gorontalo yaitu pemberian penghargaan status lingkungan hidup daerah (SLHD) kepada Kab. Gorontalo, 19sekolah ditetapkan sebagai calon model adiwiyata, pemberian penghargaan kepada 9 desa puspa serta pemberian penghargaan pelaksana dana alokasi khusus (DAK) Bid Lingk Hidup kepada 3 kabupaten yang terpilih. Tim R

Museum Maritim Butuh Dana

        Jakarta, INA-INA. 
        Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memperhitungkan kebutuhan dana hingga Rp1,5 triliun untuk membangun museum maritim yang menampung barang berharga muatan kapal tenggelam (BMKT) Cirebon.
"Kalau kita punya US$150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun, kita bisa buat museum sendiri," kata Fadel usai melantik Eselon II di Kementerian Kelautan dan Perikanan kemarin.
       Saat ini, ia mengatakan penjajakan kerja sama government to government dengan China untuk membangun museum maritim yang menampung BMKT Cirebon masih berjalan.Namun demikian, dia mengatakan China sangat ingin bekerja sama mengingat nilai artefak dari abad ke-12 tersebut sangat berhubungan dengan negara itu. Tim R

Dirjen Sejarah dan Purbakala Imbau Dana CSR Korporasi Bantu Revitalisasi Museum

         Jakarta, INA-INA.
         Dana CSR (corporate social responsibility) dari perusahaan BUMN dan swasta bisa disalurkan untuk membantu program revitasisasi dan pelestarian museum, mengingat museum merupakan ruang publik milik bersama yang menjadi tanggung jawab bersama dalam pemeliharaannya," hal tersebut dikatakan Dirjen Sejarah dan Purbakala (Sepur) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Harry Untoro Draja, di Jakarta, Kamis (17/6).
      Menurut Harry, banyak hal yang bisa ikut mendorong sektor swasta untuk terlibat dalam revitalisasi dan pelestarian museum. Revitalisasi museum tidak sekadar menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, namun harus ada kesadaran bersama untuk memelihara museum baik dari pemerintah daerah maupun sektor swasta. Implementasi CSR untuk museum dapat dikaji lebih lanjut dalam berbagai ruang dan model, misalnya untuk  membantu mendisain ulang museum agar semakin eksotik dan menyentuh emosi masyarakat sehingga menarik minat untuk berkunjung.
        Selama ini penyaluran dana CSR perusahaan-perusahaan besar masih terfokus pada sektor pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan konservasi alam. Diharapkan di masa datang dana CSR itu dapat disalurkan untuk membantu revitalisasi museum .
        Dalam lima tahun mendatang atau tahun 2014 sebanyak 80 museum di berbagai daerah di Indonesia akan selesai direvitalisasi. Sementara untuk mengawali kegiatan tersebut pemerintah menetapkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum (Visit Museum) dengan prioritas di tujuh provinsi DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Bali. Tim R

DPRD Jabar Gelar Rapat Paripurna Perubahan Alat Kelengkapan

Bandung, INA-INA.
     Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, menggelar rapat paripurna dengan agenda rapat perubahan keputusan DPRD tentang alat kelengkapan DPRD Jawa Barat. Hal itu dilakukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2010 mengenai Pedoman Penyusunan Peraturan DPRD tentang Tata Tertib DPRD, Selasa (15/6). 
      Dalam rapat tersebut, disepakati beberapa keputusan rapat, yakni dihilangkannya ketua harian Badan Anggaran DPRD Jabar, mereduksi susunan kepengurusan Badan Kehormatan DPRD Jabar yang semula berjumlah delapan orang menjadi tujuh orang, serta mengubah kepengurusan Badan Legislasi DPRD menjadi dua orang yang semula berjumlah empat anggota DPRD.
         Menurut Ketua DPRD Jabar, Ir. Irfan Suryanagara, Semula DPRD Jabar membentuk badan-badan tersebut sebelum adanya PP Nomor 16 Tahun 2010. Keputusan yang saat ini akan dirumuskan merupakan upaya penyesuaian terhadap peraturan pemerintah tersebut.
        Rapat yang dihadiri 81 anggota DPRD Jabar, sempat diberhentikan selama tiga puluh menit. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada badan legislasi untuk memutuskan pengurus yang baru. "Karena belum terbentuknya pengurus badan legislasi yang baru, maka rapat pun kami istirahatkan sejenak," ucap Irfan.
       Kedudukan badan legislasi sangat penting dalam menunjang kelancaran pemerintahan. Menurut Irfan, badan ini harus menyiapkan rancangan peraturan daerah (raperda) yang diusulkan, baik dari kalangan eksekutif maupun dari legislatif.
       Irfan mengatakan, terdapat enam perda yang diajukan legislatif, dan 12 perda dari eksekutif. "Salah satu perda yang harus segera dibahas mengenai pengelolaan sampah bahan berbahaya dan beracun," ucapnya.
     Pada kesempatan itu, H. Tate Komarudin terpilih menjadi ketua Badan Legislasi DPRD Jabar dan H. Arsyad Ardiansyah sebagai wakil ketua Badan Legislasi. Perubahan kepengurusan tersebut ditetapkan dalam keputusan DPRD Jabar yang baru. Edwandi

Rabu, 16 Juni 2010

KOMISI C TERUS PANTAU KINERJA BUMD

             Bogor, INA-INA.            
            Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat akan terus memantau perkembangan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Jabar Robby Suganda saat mengunjungi Bank Jabar Banten Cabang Bogor dan Hotel Salak Bogor, Rabu, (9/6). Pada kunjungan tersebut, rombongan Komisi C diterima langsung oleh Direktur PD Jawi, Teni Wisramwan.
           Pada kesempatan itu, Anggota Komisi C, Yoga Santosa dan Agus Welianto menanyakan kemungkinan PD Jawi akan memperpanjang kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola Hotel Salak yang kerjasamanya berakhir pada tahun 2018.
Menjawab pertanyaan tersebut, Agung dari pihak pengelola Hotel Salak menjawab memang perkembangan perhotelan dan pariwisata di Bogor sangat maju, orang yang semula berbondong-bondong ke daerah Puncak sekarang melirik Hotel Salak dan pariwisata di Bogor. Namun untuk memperpanjang kerjasama tersebut akan dibicarakan kemudian karena masih lama.
            Sementara itu Teni mengatakan bahwa walaupun belum bisa menguntungkan akan tetapi PD Jawi sudah bisa mandiri dan tidak mempunyai utang perusahaan dan dalam hal ini tentunya pihak PD Jawi sudah menekan biaya operasional seminimal mungkin.
Selain mengelola Hotel Salak, PD Jawi pun menangani masalah Gedung Rumentang Siang dan Palaguna di Bandung. Penyelesaian masalah Palaguna sangat alot dan lamban, hal ini karena berkaitan dengan pihak Pemerintah Kota Bandung serta masalah administrasi. Mengenai masalah rencana Palaguna sebagai ruang terbuka hijau (RTH) pihak PD Jawi sudah menghadap DPRD Kota Bandung dan melobi semua Fraksi. Menurut Teni, nantinya Palaguna ini tidak BOT tapi joint venture, menanam saham sendiri dan tidak akan menganggu APBD.
             Pada kunjungan ke Bank Jabar-Banten Cabang Bogor, Komisi C diterima oleh Direktur Bank Jabar-Banten. Direktur Bank Jabar-Banten menjelaskan bahwa Bank Jabar Banten Cabang Bogor mempunyai banyak saingan di kota Bogor dan harus berkompetisi dengan75 Bank lain sehingga nasabahpun makin kesini makin sedikit.
          Anggota Komisi C, Ineu Purwadewi Sundari, S.Sos pada kesempatan tersebut menanyakan hal yang menyebabkan nasabah di Bank Jabar Banten Cabang Bogor banyak yang pindah ke Cibinong. Pihak Bank Jabar menjawab bahwa sejak ada pemisahan antara Kota dan Kabupaten Bogor, berpindahnya para nasabah ke Bank Jabar Cibinong sangat banyak karena di Kabupaten Bogor banyak didirikan perusahaan dan pabrik sehingga kantong-kantong bisnis lebih banyak berada di Kab. Bogor.
          Sementara itu, Asyanti Rozana Thalib, SE menyatakan bahwa Bogor mempunyai potensi yang sangat baik oleh sebab itu Bank Jabar Banten Cabang Bogor harus dapat memasuki berbagai sektor. Direksi Bank Jabar- Banten pun mengakui bahwa di Bogor apapun yang dijual akan laku oleh karena itu pihaknya akan berusaha berperan dalam mendorong para pengusaha untuk mengalihkan usaha ke sektor produktif yang nanti akan sangat dominan.
         Terkait dengan data yang disampaikan kepada DPRD, Yoga Santosa berpendapat bahwa data Bank Jabar-Banten sekarang sama dengan data 3 (tiga) bulan yang lalu ketika pihak Pansus BUMD DPRD melakukan evaluasi, sehingga menurut Yoga laporan yang diberikan saat ini kurang akurat dengan situasi aktual. Smith

Minggu, 13 Juni 2010

Pakar Matematika Nyatakan Guru Tak Tergantikan Komputer

Garut, INA-INA.
         Pakar Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof Dr Yaya S. Kusumah menyatakan, Sabtu guru tak akan pernah tergantikan oleh komputer secanggih apapun.
          Karena manusia memiliki keunggulan komparatif dan apegtif sedangkan komputer tidak, meski peran komputer dalam pendidikan sebagai alat dan media pengembangan SDM, peningkatan kuantitas dan kualitas komunikasi, penyederhanaan sistem administrasi serta pengembangan model pembelajaran.
          Bahkan banyak sekali kontribusi nyata, yang dapat dipersembahkan komputer bagi kemajuan pendidikan, bisa dimanfaatkan mengatasi perbedaan individual siswa, mengajarkan konsep, melaksanakan perhitungan dan menstimulir belajar siswa (Glass, 1984: 11), katanya.
          Pada seminar peningkatan kualitas pembelajaran SMP RSBI menuju SBI di SMPN 1 Garut itu, Yaya S. Kusumah juga mengemukakan, penggunaan software komputer untuk kegiatan pembelajaran sangat tidak terbatas (Fey dan Heid, 1984: 21).
          Selain itu, potensi teknologi komputer sebagai media dalam pembelajaran begitu besar (Fletcher, 1983: 1), dengan enam keunggulan dalam pembelajaran berupa kesabaran yang tiada batas, tidak terkait dengan perasaan seperti lazimnya manusia.
          Mampu memotivasi siswa dengan pujian yang dirancang khusus, memberi kesempatan bereksprimen tanpa dihantui kekuatiran akan kerusakan yang bisa terjadi, tidak diskriminatif, memberi siswa keterampilan yang berharga untuk masa depannya.
          Juga mempercepat proses perhitungan, yang secara manual sangat lama waktu penyelesaiannya, atau bahkan tidak mungkin sama sekali (Wepner, 1990; Bialo dan Sivin, 1990; Braun, 1990, Robertson, et al, , 1987).
          Sedangkan keunggulan belajar interaktif berbasis media komputer, meningkatkan kemampuan akademik, mempercepat penguasaan konsep siswa, mempertinggi retensi siswa, meningkatkan sikap positip siswa terhadap matematika. (Kulik, 1985; Bangert-Drowns, 1985).
           Kemudian manfaat komputer dalam kegiatan pembelajaran, melatih siswa mengekplorasi konsep, meningkatkan kemampuan bernalar, mendorong siswa berpikir sistematis, logis dan analitis, serta meningkatkan minat siswa untuk belajar matematika, katanya.
           ”Tuntutan kompetensi”             Karena tuntutan dan harapan kompetensi, berupa kemampuan pemecahan masalah dalam matematika, pelajaran lain, maupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata, juga kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.
             Serta kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar, yang dapat dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berfikir kritis, logis, dan sistematis.
             Diingatkannya, program Komputer Instruksional yakni pemrograman komputer untuk tujuan pembelajaran, dapat diartikan sebagai proses penciptaan satu set instruksi untuk dilaksanakan komputer dalam menyajikan satu set materi pelajaran.
             Interaksi tipe komunikasi melalui berbagai jejaring, berupa jejaring sosial (social network): Facebook, Twitter, Friendster, Myspace, Bebo, Orkut, Flickr, Youtube, dan Slideshare.
            Disusul ensiklopedia: Wiki (Wikipedia), kemudian komunikasi dalam Setting Pembelajaran: Distance learning, on-line learning dan e-learning. Misalnyamelalui software Moodle, WebCT, atau Blackboard.
            Selanjutnya, E-learning merupakan pembelajaran berbasis elektronik yang materi atau pengalaman belajarnya, disampaikan atau dimungkinkan dengan adanya teknologi elektronikCD-ROM, computer-based instruction hingga video conferencing, satellite-delivered learning and virtual education network.
            E-learning tidaksajamencakup web-based instruction atau distance learning, tapi juga meliputi berbagai cara yang memungkinkan para siswa bertukar informasi dan memperoleh pengetahuan.
            E-learning mencakup semua jenis pembelajaran yang didukung teknnologi dengan menggunakan serangkaian alat pembelajaran, seperti telepon, audio and video computer-aided instruction dalam bentuk pembelajaran on line (online courses).
            Namun keterbatasan pembelajaran interaktif berbasis komputer, meliputi komputer bukan sebuah panacea, komputer tidak bisa menggantikan peran guru, bahasa pemrograman komputer sulit dikuasai, pembuatan bahan ajar dengan komputer sangat menyita waktu, serta pembuat bahan ajar interaktif harus menguasai juga bidang pedagogi, ungkap Prof Yaya S. Kusumah.
            Kepala SMPN 1 Garut, Dadi Juhaendi, M.Pd menyatakan, pertemuan rutin ini terakhir dilaksanakan di Depok pada Januari lalu, antara lain sebagai wahana evaluasi para Kepala Sekolah, guru mata pelajaran MIPA dan ICT SMPN RSBI se provinsi Jawa Barat.
            SMPN 1 Garut didirikan 1951, pada 1958 dikembangkan menjadi SMPN 1 dan SMPN 2, SMPN 1 Garut selama ini telah memiliki 12 Kepala Sekolah, yang kini dikelola 85 personil termasuk 63 guru, 52 diantaranya guru definitif dan 11 guru tidak tetap, katanya. (RHS-ABG)

Kamis, 10 Juni 2010

Mahasiswi UNPAR, Asyifa Syafiningdyah Putrambami Latif
Rebut Mahkota Miss Indonesia 2010


Bandung, INA-INA.
        PEMENANG Miss Indonesia 2010 akhirnya di raih oleh Asyifa Syafining-dyah Putrambami Latif, finalis asal Jawa Barat. Asyifa kelahiran Bandung 20 September 1988 berhak mewakili Indonesia dalam Miss World 2010 pada November mendatang di Vietnam.
        Asyifa Syafiningdyah Putrambami Latif yang lebih akrab dipanggil Syifa adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi UNPAR dengan pres-tasi yang baik. Kegiatan yang di ikuti Syifa di kampus antara lain di Himpunan Akuntansi dan juga menjadi bendahara di Program Adik Asuh, prestasi di luar kampus pada tahun 2009 menjadi semi finalis Wajah Femina.
        Mahasiswi UNPAR angkatan 2007 ini, memiliki prinsip “be your self” dinobatkan menjadi Miss Indonesia 2010 setelah menying-kirkan finalis lainnya yang ber-jumlah 33 orang dari semua pro-vinsi di Indonesia. Untuk runner up pertama diraih perwakilan dari DI Jogjakarta Clarashinta Arumdani, dan runnuer up kedua oleh Kartika Kusumaningtyas dari Jawa Timur. Acara final Miss Indonesia 2010 dihadiri pula oleh Miss Rold 2009 Kaiane Aldorino, yang berlangsung di Ballroom Central Park, Jakarta Barat, (1/6) lalu.
         Untuk kategory penghargaan yaitu kategori Miss Tubuh Indah diberikan kepada Asyifa Syafiningdyah Putrambami Latif (Jawa Barat), Miss Kulit Cantik dime-nangi Priscilla Febrita (Sulawesi Utara), dan Miss Inovasi diraih Natasya Oktaviane Morgan (Ma-luku), Miss Persahabatan diberikan kepada Indria Zulkarnaen (Nusa Tenggara Timur), Miss Favorit dimenangi Juni Mulia (Kalimantan Barat), dan Miss Slim & Healty dimenangi Clarashinta Arumdani (DI Yogyakarta).
        Miss Indonesia 2010, Asyifa Syafiningdyah Putrambami Latif menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan Rektor UNPAR.
Kemarin siang ada yang datang, di pintu kantor saya sambil mengucapkan "selamat siang bu..." jadi saya jawab "siapa ya...?" lalu dijawab lagi "saya Miss Indonesia bu...", tutur Rektor Unpar Dr. Cecilia Lauw, Ir.,M.Sc.
        Saya bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr. Laurentius Tarpin OSC., S.Ag., L.Th. dan Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya Manusia R. Ismadi Santoso Bekti, SH, MH. berbincang-bincang dengan Asyifa Latief, mengenai seputar Pemilihan Miss Indonesia 2010.
       Asyifa Syafiningdyah berhasil memukau 7 juri Miss Indonesia 2010. Pertanyaan-pertanyaan juri berhasil di jawab Asyifa dengan lancar.
      “Salah satu pertanyaan pamungkas juri kepada finalis Miss Indonesia 2010 adalah "Apakah arti kata 'ketahanan' menurut Anda? Dan dalam situasi apa apakah Anda menggunakan kata tersebut?”
       "Kegigihan berawal dari keteguhan hati dalam hidup," jawab Asyifa dengan tenang.
Selain mendapatkan mahkota Miss Indonesia, Asyifa juga mendapatkan gelar 'Miss Tubuh Indah'.
Semoga semua sivitas akademika dan alumni UNPAR mengabdi kepada Bangsa dan Negara Indonesia tercinta. M. Edwandi


Rabu, 09 Juni 2010


Seminar Nasional Kilas Balik Perjuangan The Founding father
Pidato Bung Karno Tanggal 1 Juni 1945
         Paduka Tuan Ketua Yang Mulia! Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai 
         1* mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.
         Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah—dalam bahasa Belanda—”Philosofische grondslag”
         2* dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran-yang-sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat-yang-sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”. 
          ----- 1* Nama Indonesia-nya: Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
                  2* Dasar filsafati (bhs. Belanda). 
                       (2)  “Merdeka” buat saya ialah political independence, politieke onafhankelijkheid.
                  3* Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid? Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang —saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini—”zwaarwichtig”
                  4* Akan perkara yang kecil-kecil. Zwaarwichtig sampai—kata orang Jawa—jelimet
                  5*. Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan. Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya! Alangkah berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet!, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu. Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi Arabia merdeka! Lihatlah pula—jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat—Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, -
          ---- 3* Kemerdekaan politik (bhs. Inggris dan Belanda).
                4* Seolah-olah amat berat (bhs. Belanda).
                5* Dengan teliti, terinci dan lengkap (bhs. Jawa).
         (3) Adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia. adalah rakyat Musyik 6* yang lebih dari 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan! Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo7*! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka,—sampai di lubang kubur! (Tepuk tangan riuh). Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 1933 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama Mencapai Indonesia Merdeka. Maka di dalam risalah tahun 1933 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat. Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam—in one night only!—kata Amstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang jembatan—artinya kemudian dari pada itu—Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade 8*, yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi
           ----- 6* Golongan yang percaya adanya Tuhan, tetapi tak menganut suatu agama.
                  7* Kepala Kantor Tata Usaha untuk Lembaga Tinggi (bhs. Jepang). Badan di bawah pemerintah militer Jepang untuk mengurus persiapan sidang-sidang BPUPKI.
                  8* Suku yang berpindah-pindah tempat, pengembara (bhs. Belanda).
         (4) Kaum tani,—semuanya di seberang jembatan. Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet-Rusia Merdeka, telah mempunyai Dneprprostoff, dam yang mahabesar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyai radio-station, yang menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche9*, baru mengadakan Dneprprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada Tuan-tuan sekalian, janganlah Tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya Tuan-tuan punya semangat—jikalau Tuan-tuan demikian—dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang! (Tepuk tangan riuh). Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, padahal semboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang! (Tepuk tangan riuh). Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka,—kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar- hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan -----
            9* Tempat penitipan bayi dan anak-anak pada waktu orangtuanya bekerja.
      (5) Kesempatan oleh Dai Nippon 
           10* untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan 
           11* Diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo 
          12* Diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo-Butyoo13 diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid—in one night, di dalam satu malam! Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada Saudara-saudara, apakah Saudara-saudara akan menolak, serta berkata: “mangke rumiyin”—tunggu dulu—minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka? (Seruan: Tidak! Tidak!) Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menit pun kita tidak akan menolak, sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara Indo-nesia yang Merdeka! (Tepuk tangan menggemparkan.) Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Sovyet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dll. tentang isinya: tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis.
         14* Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan daging-nya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, -----
     10* (Kekaisaran) Jepang Raya.
     11* Kepala Pemerintahan Militer Tentara Pendudukan Jepang.
     12* Kepala Departemen Urusan Umum.
     13* Kepala Departemen.
     14* Tuntutan minimum (bhs, Belanda).
        (6)  Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka. (Tepuk tangan riuh) Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, Saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gajih 500 gulden. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentulmentul
       15*, sudah mempunyai meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet   
       16*, Barulah saya berani kawin. Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat—yaitu “meja makan”— lantas satu zitje  
      17*, lantas satu tempat tidur. Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu Saudarasaudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk 
        18* Dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: kawin. Sang Ndoro 
       19* Yang mempunyai rumah gedung, electrischekookplaat 
       20*, tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig 
      21*, belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-saudara! (Tepuk tangan, dan tertawa) Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan -----
     15* Memantul, melenting (bhs. Jawa).
     16* Pakaian untuk anak-anak.
     17* Tempat duduk yang nyaman untuk bersantai (bhs. Belanda).
     18* Jurutulis (bhs. Belanda).
     19* Berasal dari kata bandoro (bhs.Jawa), yang berarti tuan atau majikan.
     20* Alat masak listrik.
     21* Berbahagia (bhs. Belanda).
    (7) Satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver 22* satu kaset plus kinderuitzet,— buat 3 tahun lamanya! (Tertawa). Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: —kita ini berani merdeka atau tidak?—Inilah, Saudara-saudara sekalian, Paduka Tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: Kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence—saya ulangi lagi—sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka! (Tepuk tangan riuh) Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hati-nya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memer-dekakan rakyat Arabia satu persatu. Di dalam Sovyet- Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu per satu. Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata, kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem 23*, banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka”. Saya berkata, kalau ini pun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya -----
       22* Peralatan makan dari perak.
       23* Penyakit busung lapar.
     (8) Menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan—jembatan emas—inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi. Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang mahapenting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutara-kan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya internationaal recht—hukum internasional— menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko 
        24*, Yang men-jelimet. Tidak! Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internationaal recht. Cukup, Saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara lain yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka. Tidak perduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak perduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak perduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya — sudahlah ia merdeka. Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka apa tidak? (Jawab hadirin: Mau!) Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal dasar. Paduka Tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Pa-duka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosofische grondslag, atau—jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk—Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung” 
        25*, Di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu. Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu -----
      24* Macam-macam (bhs. Jawa).
      25* Pandangan hidup, filsafat hidup (bhs. Jerman).

   (9) Berdiri di atas suatu Weltanschauung. Hitler mendirikan Jermania di atas national-sozialistische Weltanschauung—filsafat nasionalsosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu Weltanschauung, yaitu Marxistische, Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu Weltanschauung, yaitu yang dinamakan Tennoo Koodoo Seishin. Di atas Tennoo Koodoo Seishin inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas satu Weltanschauung— bahkan di atas satu dasar agama—yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia: Apakah Weltanschauung kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka? Tuan-tuan sekalian, Weltanschauung ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam Weltanschauung, bekerja mati-matian untuk me-realiteit-kan Weltanschauung mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed, “Sovyet-Rusia didirikan di dalam 10 hari oleh Lenin c.s.”— Reed di dalam kitabnya Ten days that shook the world, Sepuluh hari yang menggoncangkan dunia—walaupun Lenin mendirikan SovyetRusia di dalam 10 hari, tetapi Weltanschauung-nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia Weltanschauungnya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekadar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 Weltanschauung itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di-generale-repetitie-kan. Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri generale-repetitie dari revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, Weltanschauung itu disediasediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian—hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed—hanya dalam 10 hari itulah
       (10) Didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas Weltanschauung yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian? Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, men-dirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltan-schauung. Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya Weltanschauung itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini—Weltanschauung ini—dapat menjelma dengan dia punya Munchener Putsch, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya beliau dapat merebut kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar Weltanschauung yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu. Maka demikian pula. jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschauung kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yan Sen? Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi Weltanschauung-nya telah dalam tahun 1885—kalau saya tidak salah—dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The three people’s principles, San Min Chu I—Mintsu, Minchuan, Min Sheng: nasionalisme, demokrasi, sosialisme—telah digambarkan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas Weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun. Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas Welt-anschauung apa? Nasional-sosialisme-kah, Marxisme-kah, San Min Chu I-kah, atau Weltanschauung apakah? Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan—macam-macam— tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadi-koesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencari persatuan
(11) Philosofische grondslag, mencari satu Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang Sdr. Sanoesi setujui, yang Sdr. Abikoesno setujui, yang Sdr. Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. 
           26*. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu? Pertama-tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan? Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik Saudarasaudara yang bernama kaum Kebangsaan yang di sini, maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya—tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918 —25 tahun lebih—ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan. Kita mendirikan satu Negara Kebangsaan Indonesia. Saya minta, Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Saudara saudara Islam lain, maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada Saudara-saudara, janganlah Saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat, 27 seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh -----
         26* Cara (bhs. Belanda).
       (12) Beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat 
       27* Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah orang Indonesia, nenek Tuan pun bangsa Indonesia, datuk-datuk Tuan, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia. Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa? Menurut Renan 
         28*, syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut syarat bangsa: “le desir d’etre ensemble”, yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu. Kalau kita lihat definisi orang lain—yaitu definisi Otto Bauer29*— di dalam bukunya, Die Nationalitatenfrage, di situ ditanyakan: “Was ist eine Nation?” dan dijawabnya ialah: “Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft” (Bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib). Inilah menurut Otto Bauer satu natie. Tetapi kemarin pun, tatkala—kalau tidak salah—Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr. Yamin berkata: “Verouderd!”—”sudah tua”. Memang Tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah verouderd, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru—satu ilmu baru— yang dinamakan Geopolitik. -----
        27* Negara nasional (bhs. Belanda).
        28* Ernest Renan, pemikir orientalis Perancis.
        29* Pemikir dan teoritikus Partai Sosial Demokrat Austria.
    (13) Kemarin—kalau tidak salah—Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Tuan Moenandar, mengatakan tentang “Persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, Tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya! Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekadar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan Gemeinschaft 
           30*-nya dan perasaan orangnya, “l’ame et le desir”.
           31* Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t. membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun—jikalau ia melihat peta dunia—ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara 2 lautan yang besar, Lautan Pasific dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan. Demikian pula tiaptiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir timur Benua Asia sebagai golfbreker atau penghadang gelombang Lautan Pasific, adalah satu kesatuan. Anak kecil pun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh Lautan Hindia yang luas dan Gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan. Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah s.w.t. demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athena saja, bukan Macedonia saja, tetapi -----
         30* Persamaan, persatuan (bhs. Jerman).
         31* Jiwa dan kehendaknya (bhs. Perancis).
       (14) Sparta plus Athena plus Macedonia plus daerah Yunani yang lainlain— segenap kepulauan Yunani—adalah satu kesatuan. Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesia-lah tanah air kita. Indo-nesia yang bulat—bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah s.w.t. menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera—itulah tanah air kita! Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat –antara rakyat dan buminya—maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan oleh Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup “le desir d’etre ensemble”, tidak cukup definisi Otto Bauer “aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft” itu. Maaf, Saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau. Di antara bangsa di Indonesia, yang paling ada “le desir d’etre ensemble”, adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kirakira 2 milyun. Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan! Penduduk Yogya pun adalah merasa “le desir d’etre ensemble”, tetapi Yogya pun hanya satu bahagian kecil dari satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan “le desir d’etre ensemble”, tetapi Sunda pun hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan. Pendek kata, bangsa Indonesia—Natie Indonesia—bukanlah sekadar satu golongan orang yang hidup dengan “le desir d’etre ensemble” di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang telah ditentukan oleh Allah s.w.t., tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! Seluruhnya!, karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada “le desir d’etre ensemble”, sudah terjadi “Charaktergemeinschaft”! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!
       (15) (Tepuk tangan hebat). Ke sinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan di antara Tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Ke sinilah kita harus menuju semuanya. Saudara-saudara, jangan orang mengira, bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Bayern, bukan Saksen 
         32* adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermanialah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia-lah—yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang di utara dibatasi oleh pegunungan Alpen—adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segitiga India-lah nanti harus menjadi nationale staat. Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sriwijaya dan di jaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya rajaraja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram—meskipun merdeka—bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya berkata, bahwa kerajaannya di Banten—meskipun merdeka—bukan satu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanudin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat. Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di jaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau Tuan-tuan terima -----
          32* Kerajaan lama di Jerman, lebih dikenal sebagai Prusia, Bavaria dan Saxony.
        (16) Baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat. Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku Kaityoo
          33*, Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan”. (Liem Koen Hian: “Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.”) Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena Tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk paham kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya menschheid—perikemanusiaan! Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun”. Itu terjadi pada tahun ‘17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh The Three People’s Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa ----- 
         33* Wakil Ketua, maksudnya: Soeroso.
       (17) Menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen,—sampai masuk ke lobang kubur. (Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan) Saudara-saudara. Tetapi… tetapi… memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang merun-cingkan nasionalisme menjadi chauvinisme,34* sehingga berpaham “In-donesia uber Alles”. 
          35* Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity”. Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan “Deutschland uber Alles”. Tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru—bangsa Aria—yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah philosofisch princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan “internasionalisme”. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya. Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak  -----
        34* Nasionalisme yang berlebih-lebihan.
        35* Indonesia di atas semua (bangsa).
(18) Berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, Saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2—yang pertama-tama saya usulkan kepada Tuantuan sekalian—adalah bergandengan erat satu sama lain. Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufa-kat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan. Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam—maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna—tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpinpemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebathebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusanutusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100
         (19) Orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hidup-lah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara sekalian—baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam—setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan. Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candra-dimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat, Saudara-saudara Islam dan Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter 
       36* Di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya sebagian besar dari utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, fair play! 
         37* Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, -----
        36* Huruf (bhs. Belanda).
        37* Permainan yang jujur (Bhs. Inggris). 
      (20) Agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan! Prinsip No. 4 sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka. yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara? Jangan Saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela? Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan rakyat yang diadakan di sana itu, sekadar menurut resepnya Fransche Revolutie. 
        38* Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana itu hanyalah politieke democratie saja; semata-mata tidak ada socialerechtvaardigheid—tak ada keadilan sosial, tak ada economische democratie sama sekali. Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures, yang menggambarkan politieke democratie. “Di dalam parlementaire democratie,” kata Jean Jaures, “tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlemen. Tetapi adakah sociale rechtvaardigheid, adakah -----
      38* Revolusi Perancis (bhs. Belanda).
     (21) Kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?” Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu, di dalam Parlemen dapat menjatuhkan minister. 
       39* Ia seperti raja. Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja—di dalam pabrik—sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar ke luar ke jalan raya, dibikin werkloos, 
      40* Tidak dapat makan suatu apa”. Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki? Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya. Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid 
        41* Dan sociale recht-vaardigheid. 
       42* Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, Saudara-saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan Kepala Negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarki. Apa sebab? Oleh karena monarki “vooronderstelt erfelijkheid” 
       43*—turun-temurun. Saya orang Islam, saya demokrat -----
       39* Menteri (bhs. Belanda dan Inggris).
       40* Menganggur (bhs. Belanda).41 Keadilan politik.
       42* Keadilan sosial.
       43* Arti harfiahnya: pewarisan yang diketahui terlebih dahulu (bhs. Belanda).
     (22) Karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya—dengan otomatis— menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu. Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip: 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme—atau perikemanusiaan. 3. Mufakat—atau demokrasi. 4. Kesejahteraan sosial. Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber- Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang ber-Tuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain. (Tepuk tangan sebagian hadirin) Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid,44* tentang menghormati agama-agama -----
         44* Sifat dapat memahami lain pendapat (bhs. Belanda).
        (23) Lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini—sesuai dengan itu—menyatakan: bahwa prinsip kelima dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa! Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima inilah, Saudara saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan ber-Tuhan pula! Ingatlah, prinsip ketiga—permufakatan, perwakilan—di situlah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masingmasing dengan cara yang tidak onverdraagzaam, 
        45* Yaitu dengan cara yang berke-budayaan! Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”) Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip— kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan—lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi—saya namakan ini de-ngan petunjuk seorang teman ahli bahasa—namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi. (Tepuk tangan riuh). Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar- dasarnya Indonesia Merdeka, -----
        45* Tidak sabar, maksudnya: dengan pemaksaan (bhs. Belanda).
       (24) Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme—kebangsaan dan perikemanusiaan—saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan sosio-nasionalisme. Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiekeconomische democratie—yaitu politieke democratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan—saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan sosiodemokrasi. Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain. Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: sosionasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu? Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia—semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotongroyong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong-royong! (Tepuk tangan riuh-rendah.) “Gotong-royong” adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama,
         (25) Perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntulbaris buat kepentingan bersama! Itulah gotong-royong! (Tepuk tangan riuh-rendah). Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara-saudara. Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, Saudara-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia,—di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambatlaun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah s.w.t. Berhubungan dengan itu—sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi—barangkali perlu diadakan noodmaatregel, 
        46* Peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, Saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah Saudara-saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, -----
        46* Arti harfiah: aturan darurat (bhs. Belanda).
      (26) Untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi, Saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada Saudarasaudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan—menjadi realiteit—jika tidak dengan perjuangan! Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen! De Mensch—manusia!—harus perjuangkan itu. Zonder47* per-juangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, Saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit   
         48*—tertulis di atas kertas—tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen. Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ketuhanan yang luas dan sempurna— janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, -----
         47* Tanpa (bhs. Belanda).
         48* Hitam di atas putih (bhs. Belanda).
        (27) Ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila. Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko—tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan matimatian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, merdeka atau mati” ! (Tepuk tangan riuh.) Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap “verschrikkelijk zwaarwichtig” 
          49* Itu. Terima kasih! (Tepuk tangan riuh rendah dari segenap hadirin.) -----
          49* Seolah-olah sangat berat sekali (bhs. Belanda).